Wednesday, January 7, 2015

Tentang Tv

Allahu akbar…. Allahu akbar…..

“Alqa sayang, sudah maghrib tuh. Ayo di matikan TVnya. Kita ke masjid yuk, sholat berjamaah.” Kata ayah Alqa

Alqa yang sedang asyik menonton program kesukaannya, menolak.

“Alqa sholatnya nanti saja yah. Tanggung nih filmnya lagi seru.” Jawab Alqa tanpa menghiraukan ajakan ayahnya.

“Emmm…. Anak ayah kayaknya tidak mau ya di sayang Allah ?”

“Yaa ayah… tapi kan tanggung.” Jawab Alqa sambil merengut.

“Ya sudahlah. Alqa tidak mau di sayang Allah. Ayah saja deh yang di sayang Allah.” Jawab ayah yang kemudian pergi meninggalkan Alqa.

Belum sampai keluar dari pintu rumah. Alqa pun berteriak.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah….. Tunggu Alqa.”

Ayah tersenyum. Ayah tau bahwa Alqa tidak akan mau tertinggal. Alqa pun bergegas mengambil sarung dan peci dari kamarnya dan lari mengejar sang ayah.

“Yuk yah. Kita ke masjid.”

Sambil berjalan menuju masjid. Ayah bertanya kepada Alqa.

“Tadi ayah ajak, katanya tanggung. Kok sekarang malah ingin buru-buru ?”

”Alqa cuma tidak ingin tidak di sayang Allah. Kan ayah sama bunda sering bilang sama Alqa. Kalau mau di sayang Allah, kita harus mengikuti perintah Allah dan meninggalkan yang Allah tidak suka. Biar nanti di surga, Alqa bisa bertemu dengan ayah dan bunda. Alqa sayaaaaaaaang banget sama ayah dan bunda.” Jelas Alqa panjang lebar membuat ayah tersenyum sendiri melihat tingkah puteranya.

“Pintar sekali anak ayah. Memang harus seperti itu. Kalau menuruti nonton TV, tidak akan ada habisnya. Semua yang terlihat di dalam TV itu indah, padahal tidak semuanya baik untuk di tonton. Malah sia-sia nanti waktu yang kita punya jika sepanjang waktu hanya menonton TV.”

“Ohh… makanya ayah sama bunda selalu membatasi Alqa untuk menonton ya ? dan selalu ada di samping Alqa saat Alqa menonton ?”

“Benar sayang. Karena ayah sama bunda tidak ingin Alqa terus menerus menonton TV. Ayah dan bunda ingin Alqa bisa bermain sama teman-teman, baca buku, melakukan hal-hal yang Alqa suka. Tidak hanya terpaku diam saja di depan TV. Alqa harus bergerak.”

“Harus bergerak ?” Tanya Alqa heran.

“Iya. Kalau hanya berada di depan TV saja kan Alqa diam, hanya menonton. Sedangkan kita harus bergerak, melakukan sesuatu yang bermanfaat. Membaca Al Qur’an misalnya.”

“Berarti TV itu ada baiknya dan ada buruknya ya yah ?” tanya Alqa polos.

“Iya. Makanya kita harus pintar memilih program yang baik untuk di lihat. Menambah wawasan dan iman bukan justru membuatnya kita lalai kepada Allah. Lalu, usahakan untuk bisa jadi yang di ikuti bukan hanya mengikuti. Jadi yang di tonton bukan hanya menonton. Pastinya dalam hal kebaikan. ”

“Alqa paham yah. Kita wudhu dulu yah.”

Usai berwudhu, mereka langsung masuk ke dalam masjid dan menempati shaf pertama.

“Alqa mau kemana ?” Tanya ayah saat melihat Alqa langsung berdiri setelah selesai sholat tanpa berdo’a.

Alqa langsung menengok.

“Alqa mau pulang yah. Mau lihat lanjutan film yang tadi.” Jawab Alqa.

Ayah menghampiri Alqa sambil berkata.

“Loh ? Baru tadi ayah bilang. Jangan sampai TV membuat kita lalai kepada Allah. Kok malah sekarang Alqa jadi ketergantungan ?”

“Tapi kan yah, sholatnya sudah selesai.” Alqa membela diri.

“Iya benar. Tapi Alqa selesai sholat langsung bangun tanpa berdoa dahulu, tanpa pamit juga sama ayah. Apa Alqa tadi sholat sambil memikirkan film itu ?” Selidik Ayah.

Alqa tersenyum mendengar penuturan ayahnya, seakan tahu apa yang di pikirkannya tadi.

“Ya sudah. Sekarang duduk lagi sini. Jangan lupa berdo’a.”

“Iya yah.”

***
Di perjalanan pulang menuju ke rumah.

“Yah, Alqa pernah dengar kalau TV itu bisa jadi tuhan ke dua.” Tanya Alqa.

“Kamu tahu dari mana ?”

“Alqa pernah dengar secara tidak sengaja dari obrolan kakak-kakak di masjid beberapa waktu yang lalu yah.”

“Oh gitu.” Ayah manggut-manggut.

“Memang bisa di bilang seperti itu.”

“Maksudnya yah ?”

“Begini sayang. Seperti yang tadi ayah bilang. Bahwa semua yang ada di TV itu terlihat indah. Dan TV itu media yang paling mudah di akses. Tidak seperti majalah atau internet, acara di TV bisa di lihat secara gratis. Hampir semua orang punya TV. Sayangnya, tidak semua orang bisa memilih mana yang baik atau buruk. Contohnya, ketika ada artis A berpakaian seperti ini, bisa di pastikan akan banyak orang yang mengikutinya. Bukan masalah jika pakaiannya itu sesuai yang di perintahkan Allah. Menjadi masalah jika pakaiannya itu melanggar ketentuan Allah. Karena kita cenderung mengikuti apa yang kita lihat padahal belum tentu benar.”

Alqa menyimak penjelasan ayahnya dengan serius.

“…. contoh lain misalkan ada suatu program di TV yang menampilkan kekerasan, hal tersebut bisa di tiru oleh anak-anak yang menonton tanpa ada pengawasan dari orangtua….”

“… jadi kalau Alqa mau menonton, harus di dampingi ayah atau bunda. Kalau ada sesuatu yang menurut Alqa ganjil atau tidak baik. Alqa tanya sama ayah atau bunda. Begitu juga kalau Alqa tidak sengaja menonton TV di tempat lain atau tanpa pengawasan ayah bunda. Tidak boleh langsung meniru. ”

“Gimana, sudah faham belum ?”

“Sudah yah. Terima kasih ya yah.”

“Iya.”


Pembuat: Kiptiah Hasan

Arief Jadi Pengantin

Pagi masih berkabut. Embun masih bergelayut manja di tepian rerumputan seolah enggan untuk turun membasuh tanah. Hunian serasa sepi ngelangut meski samar-samar terdengar suara beberapa ibu tadarus bergantian di sebuah mushola.

“Bu…Ibu…Assalamualaikum!”
Seorang pemuda nampak bersijingkat mendekati pintu. Tak ada jawaban.
“Bu…Ibu…Assalamualaikum!” ia mengulang sapa. Tetap tak ada jawaban tapi pintu berkerenyit separuh terbuka.
“Ya ampuuun Adeeen! Kemana saja selama ini Den. Ibu dan Bapak mencari kemana-mana lho! Kasihan mereka!”
“Ibu kemana Bi?” pemuda yang di panggil Aden itu tak menghiraukan pertanyaan perempuan paruh baya si pembuka pintu tetapi malah mengajukan pertanyaan lain.
“Ibu pergi tadarus di mushola, Bapak ada di dusun sebelah. Bibi mau nanya, Aden dari mana saja?”

Tanpa menjawab, pemuda tadi melenggang memasuki rumah. Sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan sang Ibu tapi rasa lelah begitu menguasai seluruh jiwa dan raga.

Arief tertidur dan ia tersenyum dalam tidurnya. Ia melihat Ibu tertawa gembira, menari-nari bersamanya. Arief sangat suka melihat cahaya di mata Ibu, cahaya kegembiraan yang tidak pernah ditemuinya di alam nyata. Sosok Ibu yang ia lihat, adalah sosok yang selalu menyembunyikan kesedihan. Ibu selalu tersenyum di depan Arief, bergembira, bercanda tapi dibelakang itu, ia memergoki Ibu melamun, bersedih.

Dulu Arief tak merasakan semua itu sebagai suatu siksaan batin, semakin ia beranjak dewasa, semakin tahu bahwa ibu menderita karena ayah. Ibu memang tak pernah mengeluhkan, dari pancaran mata ibu ia tahu bahwa ibu tak bahagia. Ibu merasa menjadi wanita yang tersisihkan, tak dihargai.

Ayahnya, seorang juragan yang paling kaya di dusun . Juragan kelapa dengan tanah berhektar-hektar. Sebelum Arief lahir ke dunia ini, ayahnya itu menikah lagi dengan Lastri, gadis dari dusun sebelah. Alasannya adalah karena Ibu tak dapat memberikan anak laki-laki, ke empat kakak Arief semuanya perempuan. Sebagai wanita kampung yang nerimo, ibu tak berani menentang. Ia pasrah. Tapi ayah semakin bertingkah. Apalagi ayah memiliki semua yang diinginkan wanita. Belum lagi Lastri memiliki anak, ayah menikah lagi dengan Weni, masih satu dusun dengan Ibunda Arief. Ibu tetap nerimo, meskipun gerah karena semua warga dusun memperbincangkan poligami suaminya.

Dulu Arief kecil sangat mendamba ayah. Apalagi saat-saat ramadhan tiba. Begitu ingin ia bisa shalat tarawih bersama ayah. Seperti layaknya anak laki-laki lain yang ada di dusun. Tarawih di samping ayah bersama jamaah lain. Arief kecil tak punya pengalaman itu. Kalau saja ibu tak membujuk, rasanya malas untuk ikut shalat tarawih. Ingin berada di depan, di shaf laki-laki, ia belum berani. Ia shalat di samping sang Ibu dan empat kakak perempuannya yang semuanya mengenakan mukena. Ia jengah. Tapi ia tak bisa mengeluhkan karena ibu akan menyuruhnya untuk mencoba ke shaf depan. Sendirian di shaf laki-laki. Arief tak berani. Dimatanya, semua anak laki-laki didampingi oleh ayah mereka. Karena ayah tak ada disampingnya, ia merasa takut.
Tak hanya itu yang dirasakan oleh Arief kecil, dalam segala hal ia merasakan timpang. Tak lengkap. Ia sering mendengar cerita kawan-kawannya tentang ayah yang galak, yang suka memukul karena kebandelan anaknya. Ada juga cerita tentang ayah yang baik, yang suka membawa anaknya bermain, berenang, memancing, memanjat, bahkan berburu. Arief tak memiliki pengalaman seperti itu, sosok ayah yang ia lihat adalah sosok laki-laki yang hanya datang untuk memberikan uang nafkah pada ibunya, lalu pergi lagi menemui istri lain yang lebih muda dan lebih memesona. Semakin dewasa Arief menjadi tahu kalau alasan ayahnya menikahi perempuan lain karena ingin mendapatkan anak laki-laki adalah bohong semata. Buktinya setelah ia lahir, ayah tetap bersama wanita-wanita lain. Menikahi banyak wanita merupakan prestasi bagi ayah. Arief tahu, ayah bangga karenanya.

“Rief….Arief!” Arief merasa ada sentuhan dirambutnya. Pasti Ibu. Ingin sekali ia membuka mata namun masih terasa amat berat. Usapan lembut jemari Ibu malah membuat ia lena dan meneruskan mimpi. Ia melihat lagi Ibu yang tertawa-tawa gembira bersamanya menari-nari di nirwana. Ibu mendendangkan sesuatu. Arief semakin terlena dalam rengkuhan kasih sayang itu. Semakin lena, membuat matanya enggan terbuka. Arief merindukan sentuhan seperti ini.

***

“Arief tak lama berada disini Ibu. Arief hanya datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Juga bakti terakhir sama Ibu!”
“Maksudnya apa nak? Bukankah kamu pergi hanya untuk sekolah? Kenapa bakti terakhir, dan salam perpisahan?”
“Ibuuu…berbahagialah Ibu, anakmu ini, menjadi laki-laki yang terpilih untuk menjadi pengantin!”
“Pengantin? Bukankah tujuanmu pergi ke luar dusun ini untuk sekolah yang lebih tinggi. Baru juga lulus SMA, belum bekerja, mau menikah?”
Arief menatap ibunya. Tersenyum. Ibunya ikut tersenyum.
“Kamu itu…le, kenal sama perempuan mana…kok langsung ingin menikah? Katanya mau sekolah, tak ingin mengandalkan harta ayah. Lha kalau menikah sebelum memiliki pekerjaan tertentu bukankah sama saja dengan mengharapkan bantuan ayahmu yang memiliki perkebunan berhektar-hektar itu?”

Arief tak menjawab. Ia hanya memeluk ibunya erat. Biarlah ia tak perlu menerangkan panjang lebar karena ia sangat yakin semua yang ia lakukan untuk kebahagiaan ibu. Ia akan menjadi pengantin bukan dengan wanita manapun. Ia akan menikahi syahid, menikahi maut. Dari sekian banyak lelaki, ia yang terpilih untuk menjadi pengantin. Waktunya tidak akan lama dari hari ini. Lokasi sudah ditentukan. Ia mendapat cuti satu minggu untuk mengucap salam perpisahan pada keluarga. Mata Arief menerawang, teringat seorang teman yang telah berpulang karena terpilih menjadi pengantin beberapa waktu yang lalu. Ia yakin, Dani temannya itu kini telah berada di syurga, seperti yang selalu dibicarakan dalam kajian mereka. Dani telah sukses, menjadi pengantin maut. Sebentar lagi ia akan menyusul.

Semua untukmu Ibu. Ibu akan memiliki anak yang mati syahid, yang akan membawa ibu bersama menuju syurga. Ibu tak akan menderita lagi. Ibu akan bahagia. Ustad Jabbar el Amin, amir (-pimpinan jamaah-) di tempat ia latihan pernah bilang bahwa ganjaran bagi seorang ibu yang memiliki anak mati syahid adalah syurga.

“Ya sudah le, nanti biar Ibu bicarakan dengan ayahmu mengenai keinginanmu itu. Biar kita bisa mempersiapkan lamarannya. Walaupun Ibu merasa kamu masih terlalu muda le, belum genap delapan belas tahun! Cukup umur sih untuk menikah, tapi belum cukup dewasa!”
Arief tersenyum, merenggangkan pelukan. Ia yakin, ibunya tak sepaham. Tapi ia yakin akan pemahamannya sekarang. Ia memang tak pernah memiliki ayah yang mengajarinya ilmu-ilmu agama, tak mengajarinya ilmu-ilmu kedewasaan. Ia beruntung telah di rekrut oleh Ustad Jabbar el Amin untuk menjadi santrinya. Hanya tiga bulan, tapi ia sudah banyak menguasai ilmu-ilmu ruhani. Bahkan Ustad Jabbar sendiri yang memberikan ilmu. Arief merasa memiliki seorang ayah, ia selalu pergi bersama-sama. Shalat, berburu, berlatih. Cerita-cerita kawan-kawan yang dulu hanya bisa ia dengar dan lamunkan kini bisa ia rasakan bersama Ustad agung itu. Arief seperti menemukan ayah. Dan ia menelan semua petuah dan ajaran yang diberikan. Arief tersanjung. Arief ingin seperti Dani, temannya yang sudah shahid setelah terpilih menjadi pengantin. Dan saat itu akan segera tiba. Ustad Jabbar memenuhi janjinya untuk menjadikan Arief sebagai pengantin.

“Tapi ayahmu baru berkunjung kesini minggu depan, le. Jadi sebaiknya pernikahanmu itu di undur, bagaimana?”
Sekali lagi Arief tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan memeluk ibunya lebih erat. Memang, ia akan menjadi pengantin, tapi tentu saja bukan menjadi pengantin seperti yang ibunya bayangkan. Sudahlah, tak perlu membicarakan panjang lebar dengan ibu karena ia yakin, ibu tak bisa memahami.

***

Hari-hari berlalu. Ibu bimbang, ayah tak kunjung datang! Ingin mendatangi rumah Lastri, ia takut suaminya tidak berada disana. Pun ketika ingin mencari suaminya di rumah Weni, meski masih satu dusun, ia malas bertemu dengan madunya. Lagipula ia juga takut kalau suaminya itu tak berada di rumah Weni! Sungguh benar-benar membingungkan. Padahal ia ingin segera membicarakan atau lebih tepatnya meminta pertimbangan atas permintaan Arief. Semakin hari ia semakin tak faham. Yang dibicarakan oleh Arief setiap harinya hanya tentang pengantin…pengantin..dan syahid. Ibu tak paham. Apa hubungannya pengantin dan mati syahid? Arief selalu membicarakan itu. Berpesan supaya ibu menjaga diri baik-baik, mendoakannya. Berpesan supaya Ibu tak terlalu mengingat kesedihan karena dimadu. Ada kebahagiaan lain yang lebih hakiki. Lebih abadi daripada kebahagiaan disisi seorang suami. Kebahagiaan di sisi Tuhan. Kebahagiaan di alam akhirat. Karena sesungguhnya hanya Tuhanlah pemilik cinta sejati semua manusia. Begitu selalu yang dibicarakan Arief Mau jadi pengantin tapi tak pernah mengusahakan atau setidaknya menyuruh ibunya bersibuk untuk mempersiapkan sesuatunya seperti barang-barang hantaran, mahar, atau uang. Arief….Arief…anak itu memang selalu penuh teka-teki.

Penuh teka-teki atau ngelantur? Semakin hari semakin tidak bisa dipahami oleh Ibu. Apalagi setelah ramai dibicarakan orang tentang tewasnya gembong teroris bernama Jabbar el Amin. Arief seperti orang gila. Setiap hari kerjaannya membeli surat kabar. Melahap setiap berita-berita.

“Ibu…aku bagaimana ibu? Aku bagaimana?” tangisnya meledak suatu ketika, membuat ibu serasa ingin tertawa. Kontradiktif dengan penampilan dan kesan yang secara cepat ingin ditampilkan oleh anaknya itu. Meski masih terlihat belia, Arief memelihara kumis dan janggot yang terlihat mulai melebat.
“Tenang nak! Ayah pasti akan datang, ia pasti setuju dengan pernikahanmu itu. Pasti!”
“Bukan..bukan itu Bu! Bukan!” Arief tergugu di pangkuan Ibu. Tingkahnya berbanding terbalik dengan saat kedatangannya beberapa minggu yang lalu. Ibu seolah baru bertemu dengan Arief yang benar-benar anaknya. Bukan Arief yang sok dewasa, sok bicara pernikahan, sok berdakwah, sok lebih tahu tentang agama.
“Ibu lihat gambar ini Bu? Dia pimpinan Arief, dia yang akan menjadikan Arief sebagai pengantin, dia yang menuntun Arief..tapi dia telah tiada.. Dia di tembak, Bu! Sialan…sial…sial…!” Arief menendang apa saja yang ada di depannya.
“Arief…Arief..! Tenang dong! Tenang!” meski tak terlalu mengetahui tentang politik, tentang kisruh perterorisan, ibu selalu mengikuti berita itu. Apalagi ketika Arief pulang dengan penampilan yang tak disangka-sangka. Ibu takut Arief anaknya mengikuti jejak seorang Dani yang ia ketahui lewat berita. Yang dinyatakan sebagai pelaku bom bunuh diri. Ah…akhirnya ia bisa menarik benang merah dari pengantin yang sering dibicarakan oleh anaknya itu.
“Arief bener-bener ingin mati syahid, Ibu. Arief ingin jadi pengantin berikutnya!” Arief kembali terduduk, semakin membenamkan kepala dalam pangkuan Ibu . Ada air mata yang mengalir dari sudut mata Arief. Mengalir perlahan. Ibu yakin ada alasan mengapa Arief terlihat begitu kecewa. Sampai-sampai berita tertembaknya seorang gembong teroris yang membuat seluruh rakyat Indonesia bergembira justru membuat Arief anaknya menangis tersedu sedan. Pasti ada alasan.
“Ibu…ibu. Maafkan Arief…Sorga itu…sorga itu..ah..ah..sialan…sialan…!” teriaknya lebih keras.

Arief kembali mengamuk, menendang apa saja yang ada dihadapannya. Ibu yakin, selama ini otak Arief anaknya telah di cuci oleh seseorang di luar sana. Dan ia mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya seperti semula. Menjadikan Arief kembali menjadi sebenar-benarnya Arief, anaknya.

Cirebon, 28 mei 2012

Pembuat: Eliyana Zbd

Tujuan Hidup Seorang Gadis Kecil

Seorang gadis kecil tinggal di suatu kota di Negara Indonesia. Dia mempunyai satu orang kakak perempuan dan kedua orang tua. Sekarang, gadis kecil itu menginjak kelas XII di SMA favorit di kotanya.

Suatu hari yang berbahagia, gadis kecil itu sedang memperhatikan seorang guru yang sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Setelah menerangkan sesuatu, guru itu bertanya kepada setiap murid tentang suatu hal termasuk pada gadis kecil itu.

“Fatimah, apa cita-citamu kelak?” Tanya Pak Guru.
“Saya tidak mempunyai cita-cita yang pasti seperti teman yang lainnya, Pak. Seperti dokter, insinyur, arsitektur, dan lain-lain. Tetapi saya memiliki tujuan hidup yang semaksimal mungkin harus saya lakukan. Tujuan itu adalah saya hidup hanya untuk ibadah kepada Allah, menjadi khalifah fil ard, dan kehidupan saya di dunia ini harus berguna untuk manusia. Itulah tujuan hidup saya. Apa pun profesi yang saya geluti nanti, saya akan menjalankannya dengan baik, yang penting profesi itu sesuai dengan kemampuan dan kecocokan saya dalam bidang tersebut dan tidak terlepas dari tujuan hidup saya.” jawab Fatimah.

“Jawaban yang bagus Fatimah, tapi kenapa Fatimah bisa memiliki tujuan hidup seperti itu? Tidak seperti teman yang lainnya yang mempunyai cita-cita setinggi langit?” tanya Pak Guru.

“Saya memang tidak punya cita-cita setinggi langit, tapi saya yakin, Pak. Saat saya memiliki tujuan hidup dan saya memaksimalkan usaha dan kemampuan yang saya punya, tanpa bermimpi atau menarget pasti hasilnya akan lebih baik. Mungkin saya bisa melebihi cita-cita teman saya yang setinggi langit yaitu menjadi seluas alam semesta.” jawab Fatimah.

“Wah, bagus kamu, Fath. Tak sangka ternyata di zaman seperti ini masih ada seorang remaja yang memliki pola pikir seperti itu.” Kata Pak Guru.

Bel berbunyi, tandanya waktu pulang tiba. Semua murid bersiap-siap untuk pulang. Fatimah tidak pulang, dia pergi ke tempat lesnya. Di tempat lesnya terpampang sebuah poster yang isinya menjelaskan tentang beasiswa untuk siswa yang kurang mampu, kalau siswa tersebut lolos dalam tahap-tahap penerima beasiswa, maka siswa tersebut dibebaskan biaya saat dia kuliah nanti. Fatimah tertarik dengan beasiswa itu, dia pikir jika dia diterima menjadi salah satu siswa penerima beasiswa pasti kedua orang tuanya akan tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Fatimah pun menulis syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti beasiswa tersebut.

***

“Mah, tadi di tempat les Ade ngeliat poster beasiswa. Ade mau ikut beasiswa itu, syarat-syaratnya ini, diusahain besok udah ada. Nanti sama Ade syarat-syarat dan formulirnya dikasih ke tempat les.” kata Fatimah. “Emang beasiswa apa, Fath?” Tanya Mamah.

“Beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, nanti kalau Ade lolos seleksi, Mamah enggak usah bayarin Ade kuliah.” jawab Ade sambil tersenyum.

“Ikutan aja, Fath. Biar Mamah yang ngumpulin syarat-syarat untuk beasiswanya. Kalau kamu nanti lolos, mamah sangat terbantu sekali.” kata Mamah. “Siap deh, Mah. Makasih ya, Mah.” Kata Fatimah sambil memeluk Mamahnya.

“Sama-sama, Fatimah sayang.” Kata Mamah.

***
Ada beberapa tahap untuk bias mendapatkan beasiswa itu. Tahap pertama adalah tes akademik I, tahap kedua adalah wawancara, dan tahap ketiga atau akhir adalah tes akademik II. Tahap pertama yaitu tes akademik I dilaksanakan di Ganesha (tempat dilaksankanannya setiap tahap beasiswa), banyak sekali siswa yang mengikuti beasiswa tersebut. Kurang lebih ada sembilan ratus orang yang mengikuti beasiswa itu. Fatimah menempati duduk di belakang, dengan persiapan tes yang kurang maksimal, Fatimah tetap berdoa agar diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah dan diberikan hasil yang terbaik oleh Allah.

Tes akamedik I pun dimulai, semua siswa mengerjakan soal yang diberi oleh panitia. Satu menit, dua menit, tiga puluh menit, waktu berlalu begitu cepat.

“Waktu yang tersisa lima belas menit lagi.” kata panitia. Dan waktu untuk mengerjakan soal pun habis. Fatimah mengerjakan soal itu semampunya, semampu yang bisa dia kerjakan. Hasil yang nanti dia dapati, baik buruk maupun baik. Dia serahkan semuanya pada Allah.

***

Pengumuman siswa yang lolos beasiswa pun dibuka. Dengan cepatnya, Fatimah melihat hasilnya. Syukur Alhamdulillah, Fatimah lolos tahap pertama. Tak ada kata yang bisa Fatimah ucapakan selain ucapan terima kasih kepada Allah atas jalan yang Dia beri untuk Fatimah. Siswa yang lolos tahap pertama kurang lebih tiga ratus orang.

Siswa yang lolos tahap pertama, diminta untuk datang ke Ganesha untuk pendataan dan ada beberapa hal yang akan disampaikan kepada siswa yang lolos.

***
Semua siswa pun berkumpul di Ganesha pada hari yang telah ditentukan. Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa tahap kedua yaitu wawancara telah dilalui, mereka mewawancarai peserta melalui formulir yang diisi oleh peserta.

Tersisa satu tahap lagi untuk mendapatkan beasiswa tersebut, tahap ini adalah tes akademik II yang akan diselenggarakan berbarengan dengan gelombang kedua beasiswa tersebut. Pada bulan Desember, tahap ketiga ini akan dilaksanakan. Supaya para siswa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk tes akademik II, siswa diberi les gratis oleh Yayasan Ganesha dan salah satu tempat les di kota itu.

Para siswa diberi secarik kertas, di sana tertulis jadwal yang akan dipilih untuk les. Fatimah pun memilih hari-hari yang tidak bentrok dengan kegiatannya.

***

Saat itu Fatimah merasa bebannya mulai bertambah, dia harus meluangkan banyak waktu untuk belajar. Padahal sudah cukup baginya les sepulang sekolah yang dia lakukan dua kali seminggu. Entah mengapa hatinya tak menerima dirinya disibukkan oleh hal seperti itu. Dia lebih baik disibukkan dengan kerjaan organisasi atau disuruh pergi kesana kemari. Beban yang Fatimah rasakan saat ini membuat dirinya menjadi stres, akhirnya Fatimah pun jatuh sakit. Sangat jarang Fatimah sakit dua kali dalam satu bulan. Dia pun bingung, kenapa dirinya sakit lagi? Pada hari Minggu, Fatimah bertemu dengan seseorang yang suka memberinya solusi. Sebut saja orang itu Kakang. Fatimah pun menceritakan semua bebannya pada Kakang. Dengan bijak, Kakang memberikannya solusi.

“Tidaklah satu pun makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah. Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur oleh-Nya. Mungkin saja pandangan kita buruk terhadap suatu hal, tapi ternyata hal itu adalah hal yang baik bagi kita. Allah sudah merencanakan semua hal yang terbaik bagi kita. Janganlah kita selalu suudzan pada-Nya. Sekarang yang Fatimah alami adalah ketidaksukaan Fatimah disibukkan dengan banyaknya tambahan belajar di luar jam pelajaran sekolah. Namun mungkin dibalik ketidaksukaan itu, terdapat suatu hal yang baik bagi Fatimah. Sekarang yang perlu Fatimah lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah, Dialah yang mengatur kehidupan kita, baik atapun buruknya hanya Dia yang tau. Pahamilah diri Fatimah bahwa Fatimah sedang berada ditempat yang mengharuskan Fatimah untuk selalu belajar. Mungkin ini juga salah satu doa Fatimah yaitu semoga selalu diberikan yang terbaik oleh-Nya. Mungkin inilah yang menurut-Nya terbaik untuk Fatimah saat ini. Setelah berbaik sangka, yakinkan pada diri Fatimah bahwa ini adalah kesempatan Fatimah untuk memaksimalkan kemampuan dan usaha yang Fatimah lakukan.

Teruslah berjuang untuk tujuan hidup yang telah Fatimah pilih. Jangan pernah Fatimah mengeluh akan suatu hal, karena itu tak ada gunanya. Tak ada bedanya kok, setelah atau sebelum Fatimah mengeluh akan suatu hal. Nah terus, sakit yang Fatimah alami sekarang bukan karena Fatimah cape melakukan suatu aktivitas. Tapi Fatimah lelah dengan perasaan Fatimah sendiri, Fatimah stress menghadapi ini semua. Itu bisa membuat seseorang atau Fatimah jadi sakit. Oleh karena itu, kendalikan stres itu. Kakang yakin, Fatimah pasti bisa. Semangat!”

Satu, dua, tiga tetes air mata mengalir di pipi Fatimah. Fatimah sadar semua hal yang dikatakan Kakang adalah benar. Kalaulah aku menjadi seorang yang mengeluh, apa gunanya juga?

Solusi yang Kakang berikan pada Fatimah membuat Fatimah menjadi lebih yakin bahwa ini bukanlah suatu beban tapi inilah jalan dan takdir Fatimah. Oleh karena itu, Fatimah harus memaksimalkannya.

***

Sekolah, les, dan les, itulah rutinitas yang Fatimah lakukan tiap harinya. Hari ini, ya, hari ini mungkin Fatimah sampai pada titik jenuh dia untuk belajar. Walau begitu, Fatimah tetap istiqomah untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan memaksimalkan waktu yang ia punya untuk hal yang berguna, salah satunya yaitu untuk belajar.

***

Beberapa bulan kemudian, bulan Desember. Tahap ketiga atau akhir yaitu tes akademik II telah tiba. Fatimah telah duduk menunggu soal yang datang untuk dia isi. Soal pun dibagikan, Fatimah mengerjakan soal-soal itu dengan teliti dan cermat.

Beberapa jam setelah tes, hasil dari tahap ketiga itu dipampang di sebuah mading di Ganesha. Pada tahap ketiga ini hanya 150 orang yang lolos. Fatimah pun berburu dengan siswa lainnya untuk melihat hasil tahap ketiga.

“Fatimah Azzahrah LOLOS”

Rasa syukur dia panjatkan kepada Allah SWT, tak ada kata yang dia ucap selain Alhamdulillah. Hanya Allah yang dapat memberikan semua ini padanya.

***

Bulan Maret.
Tak terasa bulan yang ditunggu oleh para siswa se-Indonesia akhirnya datang juga. Setelah usaha yang telah mereka lakukan, belajar setiap hari agar dapat mengerjakan ujian nasional dengan lancar dan mereka akan merasakan hasilnya pada hari-hari ujian ini. Tetapi ada beberapa oknum yang mengandalakan kunci jawaban yang telah mereka beli sebelum UN dilaksanakan. Oknum tersebut membagikan kunci jawaban pada semua siswa termasuk Fatimah. Tetapi dengan keyakinan yang kuat Fatimah menolaknya.

“Fatimah ingin mengerjakan ujian ini dengan jujur, tanpa kecurangan sedikit pun. Bukan nilai atau kelulusan yang Fatimah diinginkan, tapi yang Fatimah inginkan adalah mental baja seorang pemuda Indonesia di masa mendatang. Bukan para pemuda yang bermental tempe yang tak siap mengahadapi dunia dan malah melakukan korupsi kecil-kecilan seperti ini.

Kalau kalian masih melakukan hal semacam ini, tak salah kok kalau negara kita tidak akan pernah maju. Kenapa? Karena pemuda penerus bangsanya sudah diajarkan sejak dini, bagaimana caranya untuk melakukan kecurangan atau korupsi?” kata Fatimah dengan nada yang tegas.

Semua oknum yang mendengar ucapan Fatimah seketika terdiam membisu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Akhirnya, oknum penyebar kunci jawaban UN pun mengambil semua kertas kunci jawaban yang sudah ditulis oleh siswa dan membuangnya.

“Berlakulah adil pada diri kita sendiri, kita selalu mengeluh kalau ada pejabat yang korupsi, padahal secara tidak sadar kita pun melakukan korupsi kecil. Sudah cukup sampai sini kita menyontek dan melakukan kecurangan. Ayo kita maksimalkan kemampuan yang kita punya untuk mengisi soal-soal ujian ini. Buktikan bahwa kita bisa dengan kemampuan yang kita punya.” Kata salah satu oknum kepada teman-teman di kelas. Ujian Nasional pun dilaksanakan, semua siswa di ruangan Fatimah mengisi soal-soal ujian dengan jujur tanpa melakukan kecurangan sedikit pun seperti menyontek.

Hari-hari Ujian Nasional telah Fatimah lalui. Setelah Ujian Nasional, ada ujian berikutnya yang haru Fatimah lalui, ujian itu adalah PMBP ITB.

***

Beberapa hari setelah UN dilaksanakan. PMBP ITB (Penelusuran Minat Bakat Prestasi Institut Teknologi Bandung) sudah di depan mata.

Fatimah mencari tempat duduknya untuk melaksanakan PMBP ITB. Selama dua hari PMBP ITB dilaksanakan. Fakultas yang Fatimah pilih yaitu 3 diantaranya adalah FTI, FTTM, dan FITB. Tak ada yang bisa membantu Fatimah pada saat PMBP kecuali Allah. Fatimah selalu berdoa setelah solatnya.

“ Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba- Mu ini, berilah aku kelancaran dan kemudahan untuk menjalani perjalanan hidup di dunia. Berilah aku jalan terbaik menurut-Mu. Selamatkanlah aku di dunia maupun akhirat. Amin. ”

PMBP pun sudah Fatimah lewati. Walau semua ujian tulis telah Fatimah lalui, Fatimah tak hentinya belajar. Karena dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah dia diterima di ITB melalui jalur PMBP atau tidak? Yang tahu hanyalah Allah SWT.

***

Pengumuman PMPB pun dibuka, Fatimah membuka web ITB dan mengetikkan nama dan nomor peserta ujian pada halaman web tersebut. Setelah menunggu beberapa detik. Keluarlah hasil dari perjuangan seorang gadis kecil.

FATIMAH AZZAHRAH
Selamat Anda
DITERIMA
FTTM ITB

Sujud syukur, hal yang pertama kali dia lakukan setelah melihat hasil tersebut. Berterima kasih kepada Allah yang memberikan dia hasil yang membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Tidaklah satu makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah, hasil yang Fatimah dapati hari ini bukanlah kesenangan belaka. Tapi itu semua adalah sebuah ujian baru yang Allah berikan untuk Fatimah.

***

Beban, ya beban, sesuatu yang Fatimah anggap beban kali ini mulai berkurang. Tersisa satu pengumuman lagi yang Fatimah nanti. Itu adalah hasil Ujian Nasional. Tak terasa, hari pengumuman pun tiba. Sekolah mengirim hasil Ujian Nasional via pos ke setiap rumah. Surat itu pun sampai di rumah Fatimah. Perlahan Fatimah membuka isi surat itu. tertulis disana sebuah kata LULUS, tersenyumlah Fatimah.

***

“ Ya Allah, ya Rabb. Apakah semua ini adalah takdir yang terbaik yang engkau berikan padaku saat ini? Apakah ini jalan yang telah kau berikan agar aku tetap istiqomah pada tujuan hidupku? Jika iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin dengan detik-detik terakhir yang aku punya agar aku bisa membuat bumi dan isinya menjadi lebih baik. Terima kasih atas segala yang telah Kau berikan kepadaku ya Allah, tanpa-Mu aku bukan apa-apa di dunia ini. SemogaEngkau selalu menuntun setiap langkah yang aku jalani. Amin. ”

Pembuat: Anti Dwi Putri

Orang-Orang yang Mengusir Tuhan

Aku masih menyusuri Jalan Jenderal Sudirman di Palembang. Entah, sudah berapa perempatan jalan kutemui. Sejak keberangkatanku dari Kilometer 12, sampai simpang Rumah Sakit Charitas, aku tak sempat lagi menghitung berapa banyak perempatan atau tikungan jalan. Yang pasti, pada setiap perempatan dan tikungan, selalu saja kutemui beragam bentuk kemiskinan. Ada puluhan bahkan ratusan kelaparan di sana.

Aku turun, tepat di depan pusat pembelajaan International Plaza Palembang. Kunaiki jembatan penyeberangan. Oh, ternyata masih banyak lagi kutemui kelaparan lagi. Kemiskinan masih menempel di setiap dinding kota. Di setiap jembatan penyeberangan. Bukan di perempatan dan tikungan ternyata. Di jembatan penyeberangan banyak lagi kepedihan, keterbelakangan, dan ketertindasan. Sekeping uang logam rupiah kukeluarkan dari kantong. Sebuah tangan kurus dari wajah lusuh itu menerima dengan penuh harap. Dari mulutnya, kudengar kemudian tiga kali ucapan hamdalah, diiringi doa buat kesejahteraan bagi setiap pemberi.

Aku terus berjalan. Membeli beberapa keperluan yang mesti kumakan hari ini, nanti malam dan esok hari bersama Pustrini, isteriku. Pada setiap langkah, aku dan isteriku masih merasakan, betapa beruntungnya aku ketimbang mereka yang ada di jembatan penyebarangan. Aku dan isteriku masih merasa beruntung dengan kehidupan kami jalani, sekalipun, kami juga hidup dalam keterbatasan. Betapa tidak? Baru beberapa menit yang lalu, kujumpai potret umat yang hidup dalam ketertindasan. Mereka hidup dalam lingkaran kemiskinan dan kepedihan, yang belum jelas semua itu akan usai. Mungkin aku tidak akan sanggup, jika Tuhan memberiku nasib seperti mereka. Tetapi, kenapa kenikmatan yang sudah kuterima sering kubalas dengan pengingkaran?
Ketika siang menjelang, mulutku berkata tentang kebesaran Tuhan. Ketika sore tiba, aku tidak jarang meninggalkan Tuhan. Aku sering berkata-kata tentang Tuhan. Tetapi kakiku masih berpijak di alam kebesaran Setan. Badanku tertunduk pada kekuasaan Tuhan. Tetapi batinku masih sering meng-agungkan setan. Mestikah aku harus tetap duduk dan bersujud di atas sajadah, sementara sajadah itu pula sudah menjadi tempatku membuang tinja?

kerongonganku mulai mengering. Aku singgah pada sebuah warung. Hanya sebentar. Datang tiba-tiba seorang pengemis buta. Ia dituntun anak laki-lakinya. Telapak tangannya terbuka lebar. Tentu mengharap logaman rupiah. Aku tidak langsung memberinya. Sebab, posisiku jauh dari tempat pengemis itu. Aku pikir, pengemis itu akan berpindah pintu, setelah menerima logaman rupiah dari orang yang paling dekat dengan pintu, tempat munculnya pengemis itu.

“Aaah, sudah sana! Dasar pengemis buta. Tidak ada uang buat kalian. Kalau mau makan ya kerja! Sana..sana pergi!” Seseorang yang aku kira akan memberi uang, justeru sebaliknya. Orang itu mengusir pengemis dengan menimpali dengan kalimat yang tidak bersahabat. Beberapa menit pengemis itu aku tunggu. Kalau-kalau saja, ia muncul dari arah pintu yang dekat dengan tempt aku duduk. Ternyata tidak. Kedua pengemis itu lenyap bersama kekecwaannya, karena tidak memperoleh uang.

Pukul empat sore. Aku berkemas pulang. Dalam bis yang kutumpangi, kembali datang dua orang anak kecil mengalunkan lagu. Not dan ritme musiknya tidak jelas.

Hanya dengan puluhan tutup botol yang dirangkai dengan kayu, lalu menjadi alat musik. Kedua anak itu bernyanyi, untuk mendapat sumbangan uang dari para penumpang. Aneh, potret kepedihan itu sempat menjadi bahan tertawaan bagi beberapa penumpang. Mereka tertawa, sudah tentu karena kedua anak itu bermain musik tanpa nada dasar. Sehingga yang muncul bukan alunan lagu yang enak dinikmati, namun sebaliknya, suara tanpa irama yang kemudian terdengar. Mereka pun tertawa, sembari menahannya dengan menutup mulut dengan telapak tangan mereka. Hampir saja aku ikut tertawa. Tetapi, aku segera mengurungkan niat itu. Sebab, aku kemudian ingat dengan pesan kiai Dalhari, guru ngaji yang dulu selalu wanti-wanti, agar aku jangan sampai mudah-mudah mentertawakan orang yang sebenarnya tidak mesti ditertawakan.

“Kalau kamu tidak mampu memberi sesuatu pada orang lain yang sedang memintamu, jangan kemudian kamu mentertawakan atau mengejeknya. Justeru kalau diam, itu akan lebih baik dari pada kamu mencibirkan mereka.”

Belum sempat aku mengeluarkan logaman rupiah, seorang perempuan yang duduk di sampingku menyela pembicaraan, seolah ia melarangku untuk memberi logaman rupiah pada kedua anak itu.

“Dik, nggak usah dikasih. Nanti malah tambah malas mereka. Lagi pula itu kan sudah nasib mereka harus begitu.”
“Bu, ma’af, kata kiai saya dulu. Berilah sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit nilainya.”
Aku tidak lagi memperhatikan wajah perempuan di sampingku. Sebab, aku harus segera turun di sebuah halte.

**

Aku baru saja memasuki pintu gerbang sebuah komplek. Rumahku ada di belakang kompleks ini. Sehingga, untuk sampai ke rumahku, aku harus lebih dulu melewati beberapa tikungan dan belokan dari gedung-gedung yang mewah. Belum lagi sampai di rumah. Kujumpai lagi dua bocah berkerudung. Salah satu diantaranya mengapit sebuah map. Seperti orang yang meminta sumbangan dari rumah ke rumah.

Tepat dugaanku. Keduanya adalah wakil dari sebuah Yayasan Sosial di Palembang. Mereka datang dari pintu ke pintu untuk mendapat sumbangan. Pada setiap rumah, kedua bocah berkerudung itu menyodorkan formulir dan surat tugas ke setiap pemilik rumah yang berhasil mereka jumpai.

“Waduh, dik, bapak sedang tidak ada di rumah. Jadi lain kali saja, ya dik,” Seseorang penghuni rumah di kompleks itu yang berhasil mereka temui mengelak untuk memberi sumbangan.
“Aduh, gimana ya, saya cuma pembantu. Saya mesti nunggu nyonya dan tuan pulang. Saya tidak punya uang.”
“Bi, bilang sama mereka, kita tidak bisa memberi sumbangan. Kita lagi tak ada uang!”

Harapan kedua bocah itu makin pudar untuk mendapat tambahan biaya bagi Yayasannya. Sebab dari rumah ke rumah, yang mereka temui hanya ucapan ma’af. Sementara, ucapan ma’af, sudah pasti bukan yang mereka harapkan. Lagi pula ucapan ma’af tidak akan bisa dibelanjakan untuk kesejahteraan anak-anak terlantar di Yayasan.

Kejadian serupa, sebenarnya bukan saja baru kujumpai hari ini. Sebab jauh sebelum aku menikah dengan Pustrini, peristiwa serupa hampir sering kutemui.

Bahkan, tiga hari sebelum ini, sudah tak terhitung lagi peristiwa yang sama kusaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri. Mungkin, esok atau lusa, aku akan kembali menjumpai lagi orang-orang yang membuang kesempatan berbuat baik. Aneh, kenapa mereka sanggup mengusir peluang berbuat baik? Mungkinkah mereka sudah merasa banyak kebaikan di mata Tuhan? Atau karena mereka juga tidak mengetahui kalau Tuhan selalu menjelma pada setiap kemiskinan, ketertindasan, kelaparan, keterbelakangan dan berada pada setiap kaum lemah?

Sampai di rumah, Pustrini, isteriku menyambut kedatanganku. Tidak seperti biasa. Hari ini, Pustrini nampak heran dengan guratan wajahku sore itu.

“Bang, kenapa, Abang terllihat murung? Biasanya nggak begitu? Lelah sekali, ya Bang?” Tanya isteriku sembari menyedu segelas teh pahit di meja.
Aku tak langsung menjawab. “Ya, lelah. Capek dan banyak cerita.”
“Cerita? Cerita apa?”
“Yah, cerita tentang hidup.”
“Aah, sudah lah Bang, jangan berpikir yang berat-berat dulu. Nanti kalau sudah hilang lelahnya, baru Abang cerita.”
“Aku ini manusia biasa, Tri. Ada saatnya salah, ada saatnya lupa. Makanya aku ingin cerita sekarang.”
Pustrini hanya diam. Seolah menunggu mulutku terbuka kembali untuk menceritakan yang kujumpai di jalan tadi siang.
“Tri, aku di pasar tadi ketemu banyak orang.”
“Ya wajar to, namanya juga di pasar,” jawab Pustrini enteng.
“Ini bukan orang sembarang orang, Tri.”
Kening Pustrini mengerut. Ada tanda tanya di sana. “Orang aneh yang Mas maksud itu orang yang bagaimana, sih? Apa mereka tidak punya hidung? Atau….”
“Bukan, bukan itu, Tri. Tetapi orang-orang aneh itu orang-orang yang suka mengusir Tuhan.”
“Kok, mengusir Tuhan? Apa bukan sampean yang aneh itu, to Mas? Tuhan kok diusir?”
“Ya enggak lah! Orang-orang yang kujumpai tadi siang itu memang orang-orang yang mengusir Tuhan!”
“Tuhan nggak bisa dilihat, kok malah diusir! Aneh! Sudah lah nggak usah sok jadi filsuf! Pusing aku, Bang…”
Aku tersenyum kecil. Ternyata Pustrini juga kenal dengan istilah filsuf. Gadis desa seperti Pustrini, kenal dari mana istilah filsuf?
“Sudah, kalau mau cerita ya cerita! Aku ini mau masak, Bang!”
“Nah, akhirnya kau juga ingin tahu juga, kan?” kataku meledek Pustrini yang makin penasaran.
“Begini, lho, Tri. Kata Kiai kita dulu, Tuhan itu menjelma ke setiap bentuk ketertindasan, keterbelakangan, kemiskinan dan berpihak pada kaum lemah. Bahkan, kata Kiai kita juga, orang miskin yang datang ke rumah kita lalu meminta sumbangan, itu bentuk kepedulian Tuhan kepada kita, bahwa kita masih diberi peluang berbuat baik oleh Tuhan, Ya kan?’
“Iya, Lalu?”
“Nah, di pasar tadi, banyak kesempatan berbuat baik dibuang. Orang-orang mengusir pengemis, pengamen. Dan di sebelah rumah kita ini, di kompleks depan sana, dua orang bocah yang meminta sumbangan untuk yayasan sosial juga diusir secara halus….”
“Lalu, apa hubunganya dengan mengusir Tuhan tadi, Bang?”
“Ya, jelas, kalau mereka membenci ketertindasan, kemiskinan, dan kehausan dan kelaparan, itu kan sama saja mereka telah mengusir Tuhan. Lalu mereka juga membuang kesempatan berbuat Baik yang diberikan oleh Tuhan ke rumah mereka, kan sama saja mengusir Tuhan juga, betul, nggak?”
“Assalamu’alaikum?” Pembicaraanku terhenti ketika dari arah pintu depan terdengar ucapan salam. Tanpa isyarat, Pustrini langsung menyongsong tamu itu.
“Bang! Bang Im!” Pustrini memanggilku.

Di depan pintu, dua sosok bocah yang kujumpai di lorong kompleks itu ada di hadapanku. Mereka datang untuk meminta sumbangan kepadaku. Tuhan hadir ke rumahku. Terima kasih Tuhan. Sekalipun seribu lagi kau hadirkan orang miskin ke rumah kami, atau kau perlihatkan kepada kami ratusan bentuk ketertindasan dan kelaparan, pasti kebaikanmu tidak mungkin bisa terbalas hanya dengan membantu mereka dari kemelaratan dan kelaparan. Tetapi, sekali lagi, terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi peluang bagi kami untuk berbuat baik!**
Palembang, Agustus – Desember 2000


Pembuat: Imron Supriyadi

Ada Apa Denganku

Pagi itu langit hitam kelam. Angin membelai masuk melewati jendela kosan 3x4m, Matahari malas keluar, dia terus bersembunyi di balik awan gelap. Seperti halnya aku yang masih bersembunyi di balik selimut tebal peninggalan nenek yang sangat bau yang aku sangat suka. Hari ini adalah hari Kamis, hari terakhir dalam seminggu aku berkuliah. Sungguh malas kuliah pagi ini, ditambah “tamu” yang setiap bulan datang membuat perutku merasa tidak nyaman dan menambah semangatku untuk tidak kuliah. Dan setiap aku teingat raut muka kedua orang tuaku perasaan itu sedikit hilang, ya, hanya sedikit.

Berjalan menyusuri gang-gang sempit yang setiap hari aku lalui ini sungguh memuakkan, ditambah dengan keringat orang-orang pasar yang membuat aku semakin muak dengan keadaanku sendiri. Sengaja aku lewat gang pasar karena hanya gang pasar akses tercepat yang menghubungkan kosanku dengan kampus. Bertemu dengan orangorang apatis yang sangat tidak peduli dengan orang lain. Masyarakat kota yang individualis. Berbeda sekali dengan kampungku, kampung cinta damai. Dimana hanya ada satu dua orang yang sedikit individualis dan itupun bukan penduduk asli kampung, orang kota yang punya segudang bisinis di desa. Benar kata Frankie, petani mencari kerja di kota, orang kota mencari kekayaan di desa. Sesaat menerawang jauh ke kampungku tiba-tiba saja ada sepeda motor yang hendak menubrukku dari depan yang kemudian menyadarkanku bahwa inilah kota.

“Goblok, jalan gak liat-liat, pake mata dong”, bapak berkumis tebal itu memarahiku. Sepertinya dia tergesa-gesa sekali hendak mengantarkan barang dagangannya. Hanya mampu menghela nafas panjang, terlalu banyak umpatan yang ditujukan kepadaku, tapi kali ini adalah murni salahku. Dengan wajah memelas aku hendak meminta maaf dan sebelum kuucapkan kata maafku orang tua itu sudah enyah dari hadapanku. Mungkin sudah peringaiku untuk selalu berlaku lemah lembut akan tetapi di sini, di kota yang belum pernah aku kunjungi sebelum aku dinyatakan lolos SNMPTN, mereka selalu menyebutnya dengan lelet. Sakit hati iya, tapi lama kelamaan aku sudah bebal dengan ejekan tersebut.

Kursi depan selalu penuh setiap kali aku datang, entah jalanku terlalu lambat atau mereka yang datang terlalu dini. Aku selalu menempati bangku paling belakang di kelas. Ada sesuatu yang tidak membuat aku nyaman berada di antara mahasiswa baru ini. Aku jarang sekali mengerti kuliah yang diberikan dosen, dan aku benci ini. Dengan belajar keras pun IP ku hanya mencapai 2,89. Dosen menurutku layaknya sales yang menawarkan produknya yang aku sama sekali tidak berminat dengan produk yang ditawarkannya. Jujur, tidak ada niatan sedikitpun berkuliah jurusan teknik. Dulu aku bercita-cita ingin jadi sastra, tapi Tuhan berkata lain. Katanya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan faktanya sampai saat ini semester 2 aku masih belum bisa menerima keadaan ini.

“I’, nanti kita ngerjain tugas kelompok di rumah Gita ya, awas kalau sampai pulang”, ancam Vina salah seorang temanku yang sangat membenci keleletanku. Mereka memanggilku Ai’, nama lengkapku Aina Fitri. Entah apa filosofi dari namaku, setiap kali aku tanya orang tuaku, mereka menjawab dulu waktu lahir bapakku lihat ada model pakaian yang cantik bernama Aina dan karena aku lahir pada hari raya Idul Fitri makanya mereka menambahkan kata Fitri di belakang.

“Emangnya tugas dikumpulin kapan? bukannya masih 2 minggu lagi ya? gimana kalau besok Senin aja? aku pengen pulang kampung, hampir tiga bulan aku belum pulang”, tawarku dengan lagi-lagi wajah memelas. Wajah memelasku sering membuat luluh orang dan inilah andalanku.

“Yahh, padahal aku pengen cepet selese, ya udah lah aku juga mau main, salam buat orang rumah ya”, meski kadang benci padaku tapi Vina adalah teman yang baik. Dia kadang merasa kasihan dengan keadaanku. Aku juga heran kenapa dia kasihan padaku. Alasannya cukup simpel, katanya aku lugu, mudah dibohongi juga, kalau semua orang ingin memanfaatkan keluguanku setidaknya ada satu orang yang tidak akan memanfaatkan keluguanku dan dia bilang orangnya adalah dia sendiri.

Kereta berangkat pukul 14.00. Kereta ekonomi yang baunya nggak karuan adalah transportasi yang biasa aku gunakan untuk mengobati rasa rinduku untuk pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah aku berada di samping ibu-ibu dan depanku bapak-bapak. Sepertinya mereka orang-orang baik. Ketika tahu bahwa aku adalah seorang mahasiswa, bapak-bapak di depanku terus menasehatiku,”Sekolah yang bener, Nak, kasihan orang tua yang membiayai, gak usah pacaran-pacaran dulu, nanti kalau sudah jodoh pasti Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pasangan yang tepat”. Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali mengiyakan. “Tuhan itu Maha Adil, laki-laki baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik, begitu juga sebaliknya, jadi kamu tidak usah takut kamu besok dapat lelaki yang tidak baik, kalau kamu adalah wanita baik insya Allah kamu pasti dapat lelaki yang baik pula”, lanjut pak tua yang tepat duduk di depanku. Walaupun agamaku masih sangat cetek, tapi aku tahu dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sangat disayangkan remaja sekarang banyak yang melakukan aktivitas pacaran. Dan yang lebih sangat disayangkan, aku sering melihat mahasiswa perempuan dengan kain yang menutupi kepalanya bergandengan tangan dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahramnya. Tak tahulah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin mereka tidak kasihan dengan orang tua yang membiayai sekolah mereka. Mungkin juga orang tua mereka kaya raya jadi tak perlu lah merasa kasihan kepada orang tua. Tapi bukankah kedua orang tua akan lebih senang seandainya anak yang mereka bangga-banggakan itu berada pada jalan yang diridhoi Allah. Sebenarnya aku tidak berhak berbicara seperti ini, agamaku saja masih awut-awutan. Lihat kerudungku, layak dibilang kelambu. Rambutku terlihat dari luar, sempat aku berpikir untuk membenahi cara berkerudungku tapi ibuku bilang ibu tidak suka anaknya terlalu fanatik dengan agama. Padahal jelas-jelas aku tahu bahwa fanatik itu perlu. Aku memang bukan lahir dari keluarga yang agamis, ibuku pun jarang menutupi auratnya seperti apa yang diperintahkan Allah untuk membalut tubuh dengan pakaian taqwa. Jika ada pengajian atau berita lelayu saja ibu memakai kerudung. Sedang bapakku adalah sesosok bapak yang otoriter yang ilmu agamanya sangat minim sekali. Lahir dari keluarga militer membuat bapakku dididik layaknya seorang prajurit. Setelah kakek nenekku meninggal, bapakku menjadi orang yang paling disegani di keluarga meski bapak adalah anak bungsu dari keluarganya tapi anak-anak budhe paling takut sama bapakku.

Tak terasa 6 jam sudah berlalu, akhirnya sampai juga aku di stasiun Tugu Yogyakarta, aku lahir di Kali Kotak, sebuah desa terpencil di daerah Sleman. Bapak sudah menjemputku lengkap dengan atribut layaknya tukang ojek kebanyakan. Bapakku memang lahir dari keluarga berada tapi naasnya kakekku suka main perempuan, tak teruruslah keluarga bapakku. Meski kakek seorang tentara berpangkat kapten tapi anaknya tak ada yang meneruskan sekolah hingga ke bangku SMA, hanya budheku saja yang hampir menamatkan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sayangnya kakekku keburu tergoda wanita lain dan hancurlah rumah tangga kakek nenekku.

“Kamu belum makan to? ini bapak beliin bakmi goreng Pak Yanto”, kami memang dari keluarga sederhana tapi bapak selalu menomorsatukan anak, apalagi masalah makanan. Tak ayal tubuhku tambun.

“Emang ibu ndak masak, Pak? kan sayang buang-buang uang”, aku mencoba untuk menyadarkan bapak kalau kami adalah keluarga pas-pasan.

“Sudahlah, kamu cuma bapak suruh makan aja susah”, bapak memang selalu tak memberiku ruang untuk berpendapat. Dari keempat anak bapak, akulah yang paling disayang dan aku juga yang paling sering membuat bapak murka.

Rumah sepi kala aku membuka pintu seraya mengucapkan salam. Rupanya ibu sedang pengajian di Mushola kampung. Mandi kemudian makan bakmi goreng kesukaanku. Dengan mulut penuh dengan makanan dari tepung itu aku bercerita tentang kuliahku yang membosankan, teman-teman yang selalu menertawakanku seolah-olah aku adalah bahan lelucon mereka, dan cerita tentang ospek yang tak kunjung usai.

Seharian penuh aku lalui dengan melepas rindu pada rumah dan seluruh isinya. Sore hari biasanya kami sekeluarga kumpul di ruang tengah, mendiskusikan apa saja yang ringan-ringan hingga waktu maghrib tiba kami mengantri kamar mandi untuk berwudlu kecuali bapakku. Tidak lupa aku mengingatkan bapak untuk sholat walaupun aku tahu kalau bapak pasti tidak akan mau. Ini yang membuat aku pilu, selalu pilu. Berbagai macam cara aku ajak bapakku untuk sholat tapi masih saja beliau enggan. Mulai dari sindiran halus sampai tidak halus sekalipun tak mempan. Sampai pernah suatu hari bapak marah padaku karena aku terlalu memaksa untuk sholat. Setiap tahajud aku selalu berdoa kepada Allah supaya Allah mau membuka hati bapakku.

***

“Bu, aku pengen merubah penampilanku, aku pengen pakai kerudung besar tapi aku malu orang-orang menertawakanku. Nanti dikiranya aku sok alim”,rengekku pada ibu yang tengah menjahit kain.

Ibu menghentikan jahitannya,”Kenapa harus malu untuk menjadi lebih baik? Ibu juga ingin sehari-hari menutup kepala ibu seperti yang kamu inginkan, Nduk”. Kaget bercampur haru, aku memeluk ibu erat. Air mataku menetes, langsung kuseka, aku tidak ingin ibu tahu kalau anak perempuannya sudah pandai menangis lagi. Karena dewasa ini aku memang jarang menangis kecuali menonton film India. Ibu melepaskan pelukanku, pergi ke kamarnya dan memanggilku,”Kamu pengen paki rok kan, Nduk? Ibu punya banyak, bawalah dua dulu. Nanti kalau kamu pulang kampung lagi ibu belikan rok lagi”, sekali lagi kupeluk ibu.

***

Malam sepertinya cepat sekali, ternyata tadi siang ibu menjahit kerudung untukku, kerudung yang tidak seperti kelambu. Kerudung yang menutupi mahkotaku. Dengan rok hitam milik ibu dan setelan putih milik kakakku nomer satu yang sekarang sudah bekerja di pabrik rokok. Kucium pipi dan tangan ibu, seperti enggan untuk melepaskannya tapi waktulah yang mengharuskan semuanya berjalan dengan cepat. Ternyata bapak tidak jadi mengantarku dengan alasan yang rumit daan sulit aku cerna. Setelah kucium tangan bapakku aku diantar Lek Karyo menggunakan motor bututnya. Malam ini aku berjanji aku harus menjadi diri yang baru, aku tidak mampu untuk menyia-nyiakan tanggung jawab yang diberikan orang tuaku. Aku terlalu sayang kepada kedua orang tuaku. Akan kukubur dalam-dalam mimpiku untuk menjadi sastrawan. Jika belajar keras pun tak akan mengubah IP ku maka aku akan belajar dengan temanku yang pandai. Setidaknya aku akan membuka sedikit diriku, aku yakin mereka adalah orang baik, hanya logat bicaranya saja yang “sedikit” kasar bagiku. Perjalanan pulang penuh dengan wajah teduh ibu,”Tuhan, jaga wanita itu. Sungguh, aku rela jika harus menumpahkan darahku untuk kebahagiaan wanita itu”, doaku dalam hati yang kemudian aku amini sendiri. Bagaimana dengan bapakku? Entahlah, aku hanya terus berdoa semoga Allah membukakan hati bapakku. Benci iya, tapi sayang sangat. Dan rasa benciku tertutupi oleh sayangku yang teramat dalam.

Pagi buta aku sampai di Surabaya, kota tempat yang indah ketika aku merasakan bahwa disinilah aku akan mendeklarasikan diri menjadi anak yang berbakti dan bertanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Kosan masih sepi, anak-anak sepertinya belum semua yang balik ke kosan. Setelah mandi kubaringkan sejenak badanku sebelum harus berangkat untuk mengejar harapan. Ganti pakaian dengan baju “baru” kebanggaanku. Melangkah dengan gontai diiringi senyuman setiap melewati orang yang melihat ke arahku. Gang pasar itu berubah layaknya red carpet yang dengan bangganya aku berjalan melewati gang itu. Ternyata bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.

Kutunaikan maghribku di mushola dekat kos yang berjarak tak lebih dari satu jengkal, kosanku memang bersebelahan dengan mushola. Sesudah sholat kuputuskan untuk pulang. Belum sempat kulepas mukenaku ponsel monochrome ku bordering.
“Assalamu’alaikum, Nduk” suara yang selalu aku rindukan .
“Wa’alaikumsalam, apa apa Bu?”
“Sampai Surabaya jam berapa? Kok ndak kasih kabar rumah?”
“Pukul 05.00, aku kira Ibu sudah tahu kalau aku sampai sini puku 05.00”
“Ya sudah, itu ndak penting, Ibu punya berita bagus. Bapakmu mau sholat, Nduk”

Kaget bercampur haru membuat tangisku pecah seketika. Lama aku tak bicara membuat ibu kebingungan.

“Nduk…Nduk…kamu kenapa? Jangan-jangan kamu tidur ya?”, ibu terus kebingungan,”Owalah, ditelepon orang tua kok malah ditinggal tidur, yowes jangan lupa belajar, jangan tidur terus, ndak maju-maju nanti kamu, Nduk”

Nut..nut..nut..nut..


Pembuat: Tiara Widodo